Senin, 17 November 2008

Malam Pertama kesatu

Sungguh tiada seorang manusia awam didunia ini yang dapat mengetahui apalagi menceriterakan perihal “malam pertamanya yang kesatu” ini dengan pasti. Semua orang hanya mendengar kisah “malam pertamanya yang kesatu” dari kedua orangtuanya ataupun orang lain yang mengisahkannya namun tetap saja mereka tidak dapat mengungkapkan apa yang kita rasakan saat melewatinya.
Kita semua mengalami dan merasakan pengalaman “malam pertama yang kesatu” ini tetapi untuk mengungkapkan perasaan yang dialami pada saat itu; kita tidak ada yang dapat secara pasti mengatakannya. Demikianlah rahasia dan kekuasaan Ilahi bagi manusia.



Allah Subhanallahu wa Taálla
Menyimpan semua perasaan yang kita alami saat itu sebagai
Rahasia kebaikan dan keburukan “malam pertama yang kesatu”.
Bahkan kita sendiri yang mengalaminya tidak dibenarkan untuk mengetahuinya agar tidak mengatakan kepada orang lain tentang
Rahasia Ilahi.

Tetapi apakah yang terjadi ?
Sebagian besar manusia ini tidak pernah bersyukur bahwa;
dengan “melalui malam pertama yang kesatu” inilah
semua dapat menikmati malam-malam selanjutnya.
Sebagian besar manusia memenuhinya dengan hawa nafsu dan mungkin keserakahan belaka berlandaskan pada alasan yang mereka semua adakan sebagai pembenar.

Kapankah Malam Pertama yang kesatu ini ?

Semua orang mulai dari orang tua kita; sanak famili; tetangga; teman dan sahabat bahkan mungkin juga makhluk yang tidak kasat mata juga hadir disaat malam pertama kita. Doá dipanjatkan kehadirat Allah SWT dengan harapan kelak kita menjadi manusia yang berbakti dan berguna bagi sesama. Semua bergembira saat itu tetapi tetap saja kita tak pernah mengetahui yang sebenarnya baik secara logika maupun secara diluar logika tentang apa yang kita rasakan saat itu.


Malam pertama setelah kita dilahirkan kedunia inilah yang menjadi
“Malam Pertama kesatu” kita.




Kedua orang tua kita mengadakan syukuran atas lahirnya seorang anak dengan segala persiapan yang terbaik sesuai dengan budaya / adat / tata cara dan kemapuannya masing-masing serta berharap sangat banyak kepada jasad mungil itu tentang segala kebaikan yang akan terjadi kelak. Sebagaimana kita sering menyaksikan kehadiran seorang bayi dalam satu keluarga merupakan suatu hikmah dan karunia yang tiada taranya bagi kedua orang tua bayi tersebut tanpa memperdulikan akan jadi apa kelak si mungil itu.

Mereka berdua menatap tubuh mungil bayi dengan kebanggaan; kegembiraan; kebahagiaan tanpa pernah ada yang berharap suatu keburukan akan terjadi pada jasad mungil bayi itu meskipun tubuh mungil itu mungkin memiliki kekurangan yang tidak diketahuinya.

Mereka berdua melindungi tubuh mungil itu dengan segala cara agar terhindar dari sesuatu yang buruk atau bahaya. Bahkan terkadang sangat ekstra ketat perlindungan yang diberikan kepada jasad mungil itu.

Mereka berdua mengorbankan semua kemampuannya untuk membuat jasad mungil itu tumbuh menjadi besar dan sehat.

Mereka berdua memberikan apa saja yang bisa diberikan dan diusahakan agar jasad mungil itu tumbuh berkembang menjadi semakin besar dan kuat.

Apakah jasad mungil itu merasakan
hebatnya “malam pertama kesatu” ini ?

Ternyata jasad mungil itu tidak mengetahui sama sekali tentang apa dan bagaimana rasanya pada saat malam pertama berada didunia fana ini। Dan dia juga tidak dapat menceriterakan “malam pertamanya yang kesatu” ini kepada siapapun।

Subhanallah ... itulah kata yang layak diucapkan karena kejadian itu merupakan rahasia Ilahi agar tidak menimbulkan fitnah dalam kehidupan manusia.





Apabila anda pernah merasakan “malam pertama kesatu” maka dapat mengirimkan kisahnya melalui email: imamnh57@gmail.com